Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 November 2013

Tinggal Kenangan


 Indahnya cinta kurasa , tetapi tak seindah yang kukira. Winda seorang mahasiswa dan karyawan swasta berusia 23 tahun. Selesai jam kulia winda selalu nongkong dengan teman-teman kampus nya yang kebanyakan laki-laki. Ada seorang laki-laki yang kebetulan teman winda satu tongkrongan, Anto nama laki-laki itu. Anto mendekati winda, tetapi ia tidak berani untuk menyatakan, Anto hanya mengungkapkan rasa nya ada melalui pesan sms yang setiap malam ia katakana “Selamat malam winda, minpi indah” ucap Anto melalui sms.  Setiap malam sebelum tidur Anto selalu berkomunikasi kepada winda melalui sms, sampai winda tertidur lelap. Semakin hari winda semakin dekat dengan Anto, tutur winda di dalam hatinya “aku tak mungkin pacaran dengan Anto, karna Anto bukan tipe cowo aku” ucap winda.

Seiring berjalan nya waktu, Winda  bingung dengan perasaanya kepada Anto. Ucap winda dalam hati ” Anto itu orang nya baik banget, tidak mungkin lah sama aku”. Tapi Winda selalu menjalankan hidup nya seperti air mengalir, adem tapi bisa membahayakan diri nya sendiri. Setiap winda kumpul dengan teman-temanya di kampus, winda sering banget mendengarkan lagu Drive yang judulnya Bersama Bintang, “Aku senang lagu itu” ucap winda kepada temanya.
Winda mengajak temen-temenya untuk berkumpul dan kepantai di malam minggu. Tak lupa Winda mengajak Anto, kebetulan rumah anto tak jauh dari pantai. “Anto ke pantai yu malam minggu, sama anak-anak mau enga” jawab anto “oke, tapi ngumpul nya di tempat aku ya”.
Setelah dua minggu sms an Winda merasa sudah mulai dekat dengan Anto, tapi kedekatan Winda kepada Anto hanya di dunia maya, hanya lewat sms. Tiba suatu sabtu malam dengan angin yang begitu kencang tak ada bintang Anto sms Winda yang menanyakan kabar Winda.

“Hay, Winda?apa kabar” tanya Anto
“Alhamdulilah baik” jawab winda
“Ohhhh, Lagi apa?” Tanya Anto
“Mau tidur” Jawab winda
sory ganggu, besok jadi kan ke pantai nya tapi mampi kerumah aku, ya, ya sudah Selamat Malam ya, Mimpi indah?” Tanya Anto
“Ya jadi, ya sudah aku tidur duluan ya”  Jawab Winda.

Setelah menjawab sms Anto, Winda pun memejamkan mata untuk tidur malam agar pagi harinya badan segar untuk menjalankan aktifitas. Dengan awan yang sudah mulai gelap tak ada bintang winda memejamkan mata. Tepat pukul 23.00 winda mendapat telpon dari salah seorang teman Anto. Andi namanya, Andi memberikan kabar bawah Anto meninggal dalam sebuah kecelakaan. Winda terkejut, saat winda sedang tertidur lelap mendapat kabar bahwa Anto sudah meninggal. Winda tak percaya begitu saja, tapi sms dari teman-teman Anto dan teman-teman winda terus masuk yang mengabarkan Anto telah kecelakaan, terus meninggal.  “aku enga percaya, soalnya belum lama Anto sms aku, ah bohong” ucap Winda. Winda meneruskan tidur nya, “semoga ini hanya mimpi” kata Winda.

Pagi yang gelap menutupi sinar matahari, Winda berangkat kerja dengan muka sedih. Sekitar satu jam sampai di kantor Winda menceritakan kepada teman-teman Winda “ Anto meninggal kecelakaan, semalam aku dapat kabar dari Andi, padahal Anto sempet sms aku tau” Tanya winda, “masa, ya uda yu kita bolos kerja aja aku temani melayat” ucap teman winda. Pada akhirnya winda pergi melayat dengan teman-teman nya. “Aku masih enga percaya, semalam dia sempet sms aku” ucap winda kepada teman-temanya.

Ternyata sms Anto selama ini kepada winda hanya sekedar ingin dekat dengan orang-orang sebelum Anto menghembuskan nafas terakhir. Lagu Drive yang berjudul bersama bintang membawa kenangan winda bersama Anto. Lirik, tidurlah selamat malam, lupakan sajalah aku, mimpilah dalam tidurmu, bersama bintang. Kata-kata itu yang mengambarkan bahwa cerita winda sama seperti lagu drive, yang setiap kali winda dengarkan pada saat winda ngumpul dengan teman-temanya.

Selamat jalan Anto, bayang-bayang mu selalu ada. Ucapan mu dan lagu bersama bintang milik Drive akan aku kenang selalu. Semoga amal ibadah mu di terima di sisi allah SWT

Success takes patience ….



Anto seorang penjual ikan dengan mengunakan sepeda dan keranjang nya, ia berkeliling dari kampung ke kampong untuk bekerja agar bisa menghidupkan ke 7 anak dan 1 orang istri. Malam hari di saat orang-orang sedang istrahan, Anto harus pergi menggoes sepeda untuk membeli ikan, setelah membeli ikan anto kembali ke rumah untuk membereskan ikan-ikanya dibantu sang istri. Pagi ini, di tengah awan mendung yang terus menggelayut, di sela tetesan hujan yang membasahi daun-daun pepohonan, Anto menggoes sepeda untuk menjual ikan-ikanya, tanpa lelah dan letih Anto menggoes sepeda dari desa ke desa, dengan teriakan,,,” ikaaaannnnnnnnnnn”?.

Setelah semua ikan terjual Anto dengan baju yang berbau amis ikan, Anto kembali ke rumah. Tidak setiap hari dagangan Anto laris terjual, “jika tidak habis biasanya di goreng sama istri”? Anto sangat sayang kepada 7 orang anak nya, setiap habis berjualan anto selalu menghidung hasil penjualan ikanya di temani dengan anak-anak nya. Jika ada uang recehan hasil jualan ikan, anto selalu memberikan uang tersebut kepada anak-anaknya tetapi sama anak-anak Anto uang tersebut di masukan celengan. Keluarga yang sangat sederhana dengan latar belakang pendidikan Anto yang hanya lulusan Sekolah Dasar, membuat keluarga mereka tidak putus harapan untuk hidup lebih bahagia dan lebih baik.

Jika anak-anak lain menginginkan mainan selalu di berikan oleh orang tua mereka, tapi itu tidak berlaku di keluarga Anto. Anak-anak Anto tidak memanjakan anak-anak nya, “jika kamu mau membeli mainan dan barang yang kamu inginya, maka uang yang bapak kasih kamu tabung”? ucap Anto kepada anak nya.

Walaupun hanya berjualan ikan dan harus membesarkan ke tujuh anak nya, Anto masih bisa meyisipkan uang hasil penjualan ikan. Sedikit demi sedikit Anto nabung, ia harus menghebat pengeluaran. Sang istri yang senantiasa menemani, suka dan duka ia lalui bersama dengan keluarga.

Dunia berputar ada kalah kita di bawah dan bisa di atas kapan saja, dengan kesabaran dan keiklasan hidup akan terasa lebih indah dan lebih hidup, dengan doa dan usaha.
Sekitar Lima tahun kemudian, Anto membeli tanah yang tidak jauh dari rumah nya dan membangun sebuah rumah yang lebih besar untuk anak dan istrinya. Lalu Anto pergi ke tanah suci bersama istri dan ibu Anto, untuk melakukan rukun islam yang ke 5 yaitu pergi haji dan meninggalkan anak-anak nya yang masih kecil-kecil.

Walaupun Anto sudah hidup berkecukupan, tetapi ia tidak pernah memanjakan ke 7 anak-anak nya,,Anto selalu mendidik anak nya dengan baik, jika anak-anak nya inget sesuatu barang selain kebutuhan sekolah. Maka anak-anak nya harus menyisipkan uang jajanya.

Dia-lah Yang menjadikan bumi ini mudah bagi kamu. Maka berjalanlah di segala penjurunya & makanlah rezki-NYA, (yang tidak terbatas jumlahnya).
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada Manusia. (Qur'an: Al Hajj: 65 )

JILID 2


Sebelum baca Jilid 2, baca dulu ya jilid 1...
http://moernariadi.blogspot.com/2013/04/jilid-1_5963.html

Satu bulan kemudia aku memutuskan untuk keluar dari pekerjaan aku sebagai sales. Banyak pengalaman yang aku dapat saat menjadi sales, mulai dari bagaimana ber attitude, positive thinking dan excited. Pada akhirnya aku tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan.

Satu tahun kemudia, ayah aku membangun tiga toko, dua toko di gunakan untuk ayah aku berjualan isi ulang air minum dan satunya lagi di gunakan untuk jualan alat tulis kantor yang dikelolah oleh kakak aku, sedangkan satu toko lagi di kontrakan. Karna aku sedang tidak kerja, maka aku membatu kakak aku untuk mengelolah toko, pada saat itu listrik toko tersebut belum terpasang. Kami hanya berjualan alat tulis kantor dan alat-alat listrik. Saat matahari terbit di atas kepala, aku pun bersiap-siap segera membuka toko. Aku membuka toko jam 08.00 di saat matahari terbit dan menutup nya pada saat matahari terbenam. Seharian aku di toko malam hari nya aku harus kulia. Jarak rumah dengan toko hanyak melewati 5 rumah, setelah menutup toko sekitar jam 5 sore, aku pun segera bersiap-siap berangkat ke kampus dengan mengendarai sepeda motor. Selelah toko berjalan sekitaran 3 minggu, listrik terpasang. Tapi tetep aku hanya menunggu toko dari jam 8 pagi samapai jam 5 sore. Kegiatan keseharian aku hanyak menjaga toko di pagi hari, malam harinya aku harus kulia.

Setelah tiga toko di bangun oleh orang tua aku, ayah tak kunjung berhenti, ayah membangun toko lagi yang jarak nya pun dari rumah aku tak jauh, sekitar 3 rumah dari toko. Pembangunan toko hampir selesai, ayah aku tiba-tiba jatuh sakit, lalu di larikan ke Rumah sakit setelah di rawat kurang dari 1 minggu ayah meminta untuk pulang dan di rawat di rumah. Setelah di bawa ke rumah kondisi ayah tak kunjung membaik pada akhirnya di larikan lagi ke RSCM. Aku dan keluarga aku merawat ayah dengan kesabaran dan keiklasan. Ibu tak mengenal lelah dan letih sedikit pun untuk menemani ayah yang sedang terbaring lemah tak berdaya di RS. Sekitar 1 minggu ayah di rawat di RSCM aya meminta pulang. Aku sekeluarga pun sepakat untuk merawat di rumah dan mencari pengobatan Alternatif. Dan ternyata semua yang aku sekeluarga coba tak menunjukan hasil yang baik, pada akhirnya keluarga aku membawa nya kembali ke RS cengkarang. Ayah langsung di bawa ke UGD, lalu dokter melihat kondisi ayah. Dokter yang menangani pada saat itu menyerah, dia berkata. “Ayah anda sudah tidak ada rangsangan dalam tubuh nya, harus di tempatkan di kamar ICU, sedangkan kamar ICU di sini sudah penuh semua”. Menurut dokter kamar ICU nya sudah penuh kami pun sekeluarga pulang. Tidak sampai di situ perjuangan aku dan keluarga,untuk kesembuhan ayah kami pun terus memperjuangan untuk kesembuhan ayah. Keluarga sudah berusaha semaksimal mungkin agar ayah sembuh. Setelah tidak di terima di salah satu rumah sakit dengan alasan ruang ICU nya penuh, akhirnya ayah di rawat di rumah. Sekitar satu minggu di rumah, kondisi ayah semakin hari semakin memburuk. Keluarga memutuskan untuk membawa ayah ke RS dan di infuse agar mendapat cairan dalam tubuhnya.
“Ayah di rawat di RS yu?” sambil di angkat kedalam mobil
“Enga mau ah, nanti kalau ayah meninggal di rumah sakit tidak ada yang tau”
“Udah, ayah tidak usah mikir ke sana?”sambil memaksa ayah dan memasukan ayah ke dalam mobil

Setelah sampai di RS ayah langsung di tangani oleh RS yang bersangkutan, kondisi ayah memburuk, hanya makan-makanan yang berbentuk cairan yang bisa ayah makan. Hari berikutnya dokter menyarankan untuk memasang selang di hudung. Pada saat dokter memasuk kan selang ke dalam hidung aku hanya berkata “ya allah sembuhkan ayah”. Dengan berjalanya waktu kondisi nya bukan semakin membaik tapi memburuk. Untuk buang air kecil pun ayah menggunakan selang. setiap hari dokter selalu mengecek kondisi ayah dan setiap hari juga ayah di berikan obat berbentuk cairan. Aku dan keluarga tak pernah mengenal lelah sedikit pun untuk kesembuhan ayah. Aku berbagi jadwal kepada ibu, kakak dan adik aku untuk menjaga dan merawat ayah di RS.

Dan pada akhirnya dokter bilang “Ayah kami harus cuci darah” keluarga besar aku terkecut setelah dokter berkata seperti itu. 2 hari kemudia, kondisi ayah memburuk. Jumat 12 Februari 2010, aku tidak menemani ayah di rumah sakit, karna besok hari nya aku harus sidang tugas akhir. Dalam hati aku berkata “aku takut klau aku sidang besok terus tiba-tiba ayah aku meninggal” rencana malam harinya aku ingin memohon restu kepada ayah agar sidang tugas akhir aku lancar, tapi kerjaan aku belum selesai, aku harus mempersiapakan untuk besok sidang tugas akhir. Malam hari ayah, menanyakan aku, ibu,kakak dan keluarga aku yang lainya. Karna waktu sudah cukup malam untuk aku dan ibu aku ke RS aku berencana santu 13 Februari akan ke RS.

Di saat ayam berkokok menandakan pagi telah datang, dan azan subuh berkumandang, ayah menghembuskan nafas terakhir di saat orang sedang terlelap tidur. Ternyata perkataan ayah aku benar, tanpa di sadari perkataan ayah benar “tidak mau di rawat lagi di RS, nanti kalau dia meninggal tidak ada yang tau”.

Telpon terdering di telinga, membawa kabar yang tak di duga “Halo!!ayah sudah tidak ada lagi” tangis keluarga aku meledak, ibu, kakak, adik, nenek yang pada saat itu sedang tidur di ruang tamu terbangun setelah mendapat kabar buru. Pada saat itu aku terkejut sekali karna siang harinya pukul 09.00 aku ada jadwal sidang tugas akhir. Pada akhirnya aku telpon dosen aku.“bu, ayah aku meninggal bisa tidak kalau sidang nya di tunda jam nya aja” jawab dosen aku “ tidak bisa, ya paling kamu harus nunggu satu semester lagi”. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi sidang tugas akhir.

Sekitar Pukul 07.00 mobil ambulan tiba di rumah duka, pada saat renazah di turunkan keluarga tak kuasa menerima kenyataan bahwa ayah pulang sudah tidak bernyawa, tangis para keluarga meledak saat jenazah di turukan, hujan besar sepertinya bumi pun menyaksikan kepergian ayah . Aku pun langsung berwudhu membacakan surat yasin dan mendoakan ayah. Setelah aku selesai membaca yasin aku pun mulai bersiap-siap untuk melaksanakan tugas aku. Tugas selama aku kulia 3 tahun, tapi aku harus di hadapkan dengan kesedihan. Setelah aku bersiap-siap tanpa merias diri aku memohon doa kepada sang ayah yang sudak tak bernyawa dan terbaring di tutup kain panjang “ayah aku mau sidang tugas akhir, klau aku enga datang aku tidak mau menunggu satu semester lagi, aku janji suatu saat aku akan buat ibu dan ayah bangga sama aku, aku mohon ijin ayah” sambil membisikkan di telinga ayah.

Sekitar 1 jam aku sampai di kampus tempat aku sidang dengan mata merah dan sembap, aku masuk ruangan dan di dalam ruangan sudah dua orang menguji menunggu aku, aku langsung persentasi tugas akhir. Persentasi aku pun berantakan karna aku terbayang-bayang ayah. Tugas akhir aku membuat program aplikasi, pada saat persentasi lalu program aku di jalankan. Ada satu program yang tidak jalan atau tidak bisa pada saat aku persentasikan.
“ kenapa program nya tidak jalan yang satu?”
“ maaf ibu dan bapak, semalam aku bulum mempersiapakan sepenuhnya, sejujurnya hari ini aku tidak konsen karena ayah meninggal hari ini”
“ Loh…ko kamu datang, kalau ayah kamu meninggal? Terus meninggal nya kapan?”
“ hari ini bu, tadi pukul 07.00 ayah tibah di rumah, kalau aku enga datang hari ini untuk sidang tugas akhir, aku harus nunggu satu semester aku enga mau bu”
“Oke, tapi ini pilihan kamu uda datang ke sini, seharusnya kamu konsentrasi dong?”
“Iya bu, Aku mengerti ini uda pilihan aku”
“Memang ayah sakit apa?”
“Awalnya paru-paru, tapi setelah di rawat di RS, jadi komplikasi mungkin karna sudah tua?”
“Terus kamu sudah lihat ayah kamu”
“Sudah bu, sebelum berangkat jenazah nya sudah di rumah”
“Ohh, ya sudah persentasi nya selesai, yang sabar ya kamu?”
“Ya bu, terimakasih. Maaf banget ya bu, kalau hari ini aku tidak konsentrasi”

Setelah persentasi sekitar 45 menit aku keluar dari ruang, dengan agak sedikit lega perasaan aku setelah sidang tugas akhir. Akhirnya kau pun langsung pulang. Dengan kondisi jalan yang tidak menungkinkan untuk mengenadarain motor dengan curah hujan yang deras tanpa mantel hujan aku mengendarai sepeda motor dengan kecepatan sedang. Satu jam kemudian tiba lah aku di rumah, ayah aku sudah selesai di solat kan. aku pun langsung menganti pakaian yang basah. Aku tak bisa melihat pada saat ayah di bandikan, dikafankan dan di solatkan. Aku hanya melihat ayah pada saat jenazah nya tiba pertama kali di rumah. Sambil menunggu hujan berhenti keluarga dan para pelayat terus membacakan yasin. Sekitar 30 menit setelah di solatkan alhamdulilah hujan berhenti, akhirnya ayah di makam kan, di makam keluar yang jarak nya tidak jauh dari rumah.




JILID 1



Pagi yang cerah di iringan suara ayam berkokok membangunkan aku dari tidur malam. Aku langsung bangkit dari tempat tidur dan siap-siap menujuh ke kantor. Setelah aku selesai mandi dan beres-beres ayah aku mengantarkan aku sampai terminal kalideres dengan mengendarai sepeda motor. Setelah sampai di terminal kalideres, aku langsung menghampiri halte busway dan membeli tiket, setelah tiket aku dapatkan, Wekwek antrianya begitu banyak dan panjang sekali, setelah mengantri sekitar 15 menit akhirnya masuk busway dan mendapat tempat duduk di deretan belakang.

Sekitar 1 jam dari terminal kalideres aku tiba di halte harmoni, dengan langkah yang begitu berat, aku berjalan dari halte harmoni menuju kantor, sekitar 15 menit aku tiba di kantor dengan muka yang sedikit kusut. Setelah tiba di kantor tak lupa aku memoles wajah aku dengan sedikit bedak, lipstick dan pinsil alis. Aku berkerja di salah satu penerbangan, posisi aku sebagai call center jam kerja nya 24 jam, aku selalu mendapat shift pagi Jam 07.00 WIB. Aku memulai pekerjaan dengan muka ceria dan tidak lupa sebelum bekerja aku selalu mengawali pekerjaan aku dengan berdoa agar setiap pekerjaan yang aku kerjakan lancar. Begituh banyak resiko pekerjaan yang aku jalankan, mulai dari di marahin penumpang gara-gara pesawat delay, salah booking tiket, di marahin atasan. Jam 15.00 Shift pagi keluar, masuk lagi shift dua. aku pulang mengunakan bus jurusan kalideres, bus nya begituh penuh akhirnya aku berdiri setelah sampai di Roxy ada seorang ibu yang sedang duduk tiba-tiba ibu itu turun dan akhirnya aku duduk. Disamping aku duduk ada seorang bapak-bapak setengah tua. Bapak itu bertanya?
” Kerja di mana?”
“ Aku kerja di Lion Air pak”
“ Ohhh lulusan apa? “
“ hanya lulusan SMK”
“ Kenapa tidak kulia?”
“ Mau sih pak, tapi nanti duitnya belum kumpul…hehehehe”
“ Oh. Kulia aja sayang kan klau hanya lulusan SMK. Klau kamu lulusan S1 kan nanti suami kamu bias S2. Semakin tinggi pendidikan kamu semakin tinggi juga pendidikan suami kami nanti?”
“Iya juga ci Pak, Aku juga ingin kulia..hehehe
“Bagus kalau begitu, ya uda ya, bapak duluan?
“Ya pak, hati-hati”

Aku merenungi perkataan bapak-bapak itu. Keyakinan aku untuk kuliah semakin kuat. Pada akhirnya aku membicaran kepada orang tua aku terlebih dahulu.
“Bu, aku ingin kulia?
“Ngapain kulia, toh orang kulia juga wat cari duit, kamu kan uda kerja nanti cape terus kulia kamu terabaikan”
“Enga bu, kalau aku hanya tamatan SMK, aku pasti bakal kerja hanya jadi call center dan lain-lain. Aku tuh ingin bu kerja di kantor yang jam kerja nya senin – jumat, sabtu, minggu, tanggal merah, lebaran aku libur. Bukan seperti pekerjaan aku yang hari-hari libur aku tetap masuk kerja, bahkan lebaran pun aku masuk, aku enga mau bu”
“Ya sudah terserah kamu aja lah?”

Dengan keinginan aku yang begitu kuat, akhirnya aku mencari tempat kulia yang murah dan terjangkau, dalam lubuk hati aku berkata, “aku janji suatu saat nanti orang tua aku akan bangga kepada ku”. Aku sisipkan uang gajian aku tiap bulan.
Januari 2008 aku mendaftar di bsi, uang tabungan aku tidak mencukupi pada akhirnya aku minta bantuan orang tua aku, alhamdulilah orang tua memberikan aku uang untuk biaya kulia aku. maret 2010 aku memulai perkuliahan baru, bertemu temen-temen baru. Yang membuat aku seneng aku bertemu temen-temen sewaktu di SMK, ternyata mereka satu kelas. Aku mengambil kuliahan malam, mulai kulia jam 18.00.

Dari pagi sampai sore aku bekerja sebagai call canter, malam hari nya aku kulia. Kalau jam kulia nya sekitaran jam 7 malam biasanya aku pulang kerumah, tetapi kalau kulia jam 6 sore dan biasanya aku langsung dari tempat kerja menuju ke kampus, sebetul nya melelahkan sih, tapi aku tetap semangat karna ini kan keinginan aku bukan keinginan siapa pun.
Setelah aku berkerja sekitar 1 tahun 8 bln, dan perkulihaan aku baru masuk satu semester aku memutuskan untuk berhenti kerja, aku memjadi penganguran sekitar Enam bulan. Aku memcoba melamar ke beberapa perusahaan melalui email dan ada juga yang aku datengin. Dengan doa, usaha dan keyakinan aku yang kuat. Akhirnya ada perusahaan yang menelpon aku untuk datang interview kebetulan tampat nya tidak jauh dari rumah aku.

Di hari senin pagi hari dengan matahari memancar dan wajah yang bersinar-sinar aku datang untuk interview. Setelah 20 menit dari rumah aku tiba di tempat yang aku interview. “Eh ternyata posisi yang di tawarkan sebagai sales, wekwek aku bingung apakah aku ambil pekerjaan sebagai sales atau tidak ya”. Setelah berpikir kurang lebih dari 2 menit aku memutuskan untuk mengambil pekerjaan sebagai sales. Akhirnya aku langsung di tes, prakter ke lapangan bawa barang-barang yang akan di jual. Aku memjual alat penghemat listrik.
Jam 07.30 Pagi aku sampai di kantor baru dengan orang-orang baru yang belum aku kenal. Setiap pagi sebelum melakukan aktifitas kerja karyawan di briefing terlebih dahulu. Selesai briefing sekitar jam 8.30, karyawan melunjur kelapangan dengan mobil yang sudah menunggu di halaman depan kantor. Aku pun siap meluncur dan seluruh karyawan di drop ke TKP. Dengan terik matahari yang begitu panas, aku pun mulai menawarkan alat penghemat listrik, dari satu rumah ke rumah yang lain.
“Permisi, Selamat siang ibu/bapak?”
“Siang/Sore”
“Kami dari Sekolah STT Telkom, lagi PKL?ingin menawarkan alat penghemat Listrik, alat ini bisa menghemat listrik sampai 70%”
“Oooh, berapa harganya”
“Harga normal nya Rp. 250.000, klau ibu beruntung ibu bisa dapat dengan harga Rp.150.000?Aku bias lihat rekening listrik ibu, bulan apa saja yang penting tahun ini bu?”
“Tunggu sebentar ya”
“Ya, bu”
“Ini Rekening listrik saya”
“Ya, bu terimakasih? Oooh ternyata ibu tidak ada penunggakan pembayaran, SELAMAT kali ini ibu beruntung, ibu mendapatkan harga special, Rp. 150.000, kesempatan hanya hari ini aja bu, kalau ibu tidak ambil, ibu bisa beli di kantor PLN terdekat dengan harga Rp.250.000. bagaimana? Soalnya mulai bulan depan seluruh warga di anjurkan memakai alat penghemat listri ini?”terserah ibu sih, mau di ambil atau tidak?”
“Waduh, bagaimana ya”
“Ya terserah ibu, Mau bli sekarang atau nanti. Soalnya mulai bulan depan di anjurkan semuanya memakai alat ini”
“Ya sudah deh ibu ambil aja, Rp.150.000 ya”?
“Ya bu, Nanti cara pasang nya, Ibu bisa langsung pasang saja di dekat MCB dan kalau mau di pasangkan ada bu tim kita”
“Sekalian aja di pasang kalau gitu”
“Oke Bu”

Setiap pagi aku melakukan pekerjaan sebagai sales lapangan. Bermacam-macam tipe orang yang aku temukan mulai dari yang ramah, acuh, galak dan baik. Semua itu aku lalui dengan kesabaran. Aku bekerja sebagai sales hanya di bayar dengan upah yang tidak tentu, satu barang yang terjual aku hanya mendapat komisi 30.000/pcs, jika dalam satu hari aku tidak dapat melakukan menjualan aku pulang tidak mendapat uang. Suatu hari aku perna tidak melakukan penjualan satu pun, di terik matahari yang begitu menusuk kulit dan tulang, aku pulang tidak membawa uang sepeser pun. Sekitar jam 17.30 aku kembali ke kantor, istirahat sejenak satu tim aku di briefing. Setelah selesai semuanya, mereka semua kembali kerumah masing-masing. Aku pun tak kembali ke rumah, aku meneruskan aktifitas lagi. Seharian aku bekerja di lapangan, malam harinya aku harus pergi ke kampus untuk kulia.



Terima kasih uda mau baca....


Lanjut Ke Jilid 2 Ya....heheh

http://moernariadi.blogspot.com/2013/11/jilid-2_27.html